Beranda Tentang Kami Visi & Misi Struktur Organisasi Posko Aduan KASTA Tim Reaksi Cepat (TRC) Hotline Ambulans Kontak
Berita Sosial

SADE HARUS KEMBALI BERDIRI

Diterbitkan: Agustus 23, 2026 Oleh: Admin

 


Gerakan KASTA NTB Membangun Kembali Rumah, Menjaga Warisan Sasak

Lombok Tengah — Malam 22 Agustus 2026 menjadi malam yang tidak mudah dilupakan oleh masyarakat Desa Adat Sade.

Api membesar dan dengan cepat menjalar di kawasan permukiman tradisional Suku Sasak. Material bangunan yang didominasi kayu, bambu, dan alang-alang membuat kobaran api bergerak cepat dari satu bangunan ke bangunan lainnya.

Sebanyak 129 rumah dilaporkan ludes terbakar, sementara sekitar 320 warga terdampak akibat musibah tersebut.

Pagi harinya, wajah Sade berubah.

Rumah-rumah yang selama ini menjadi bagian dari lanskap budaya Lombok berubah menjadi puing. Tempat keluarga beraktivitas, menyimpan benda-benda berharga, dan menjalankan kehidupan sehari-hari harus ditinggalkan.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh ikut terbakar:

semangat untuk membangun kembali.


Sade Bukan Sekadar Kumpulan Rumah

Bagi masyarakat luar, Sade mungkin dikenal sebagai salah satu tujuan wisata budaya di Lombok.

Tetapi bagi masyarakat Sasak, rumah-rumah tradisional di kawasan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Bale Tani, Bale Kodong, dan bangunan tradisional lainnya bukan hanya konstruksi dari kayu, bambu, tanah dan alang-alang.

Di dalamnya terdapat pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ada cara memilih material.

Ada cara menyusun bangunan.

Ada cara memanfaatkan lingkungan.

Ada nilai kebersamaan.

Ada sejarah keluarga.

Ada identitas masyarakat Sasak.

Karena itu, ketika rumah adat terbakar, yang hilang bukan hanya bangunan fisik.

Sebagian ruang kehidupan dan warisan budaya ikut terluka.

Pemerintah Provinsi NTB sendiri telah menyatakan akan menyiapkan langkah rekonstruksi untuk membangun kembali rumah adat yang terbakar, karena Sade merupakan salah satu ikon budaya masyarakat Sasak.

Tetapi membangun kembali Sade bukan pekerjaan satu pihak.

Ini adalah pekerjaan bersama.


Dari Kesedihan Menjadi Gerakan

Di tengah kondisi tersebut, Kajian dan Advokasi Sosial serta Transparansi Anggaran Nusa Tenggara Barat (KASTA NTB) memandang bahwa masyarakat sipil juga harus mengambil bagian.

KASTA NTB merupakan organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada kajian kebijakan publik, advokasi sosial, pengawasan transparansi dan akuntabilitas anggaran, serta pemberdayaan masyarakat di Nusa Tenggara Barat.

Karena itu, KASTA NTB tidak datang untuk mengambil alih kewenangan pemerintah ataupun masyarakat adat.

KASTA datang untuk mengajak, menggerakkan, menghubungkan, dan mengawal.

Dari situlah muncul sebuah gagasan sederhana:

1 KECAMATAN = 100 BAMBU

Sebuah gerakan yang mungkin terlihat kecil.

Tetapi justru dari sesuatu yang kecil itulah gotong royong dapat dimulai.


Mengapa Bambu?

Rumah tradisional Sasak memiliki karakter yang sangat dekat dengan material alam.

Bambu menjadi salah satu material penting dalam konstruksi tradisional karena digunakan pada berbagai bagian bangunan, termasuk struktur dan elemen dinding.

Karena itu, bantuan bambu bukan sekadar bantuan material.

Ia menjadi simbol keterlibatan masyarakat.

Bayangkan jika satu pengurus kecamatan mampu mengumpulkan 100 batang bambu.

Sepuluh kecamatan berarti:

1.000 bambu.

Dua puluh kecamatan:

2.000 bambu.

Tiga puluh kecamatan:

3.000 bambu.

Dan apabila puluhan kecamatan bergerak bersama, jumlah itu dapat menjadi ribuan batang bambu yang dikumpulkan melalui semangat gotong royong.

Pesannya sederhana:

Satu bambu mungkin kecil. Tetapi ribuan bambu dapat menjadi bagian dari rumah yang kembali berdiri.


Bukan Sekadar Mengumpulkan Bambu

Gerakan ini tidak berhenti pada kegiatan mengumpulkan material.

KASTA NTB ingin menjadikannya sebagai gerakan sosial yang terorganisasi.

Setiap Pengurus Kecamatan didorong untuk:

  1. Membentuk tim kecil;
  2. Mengidentifikasi sumber bambu;
  3. Mengumpulkan minimal 100 batang;
  4. Memastikan bambu layak digunakan;
  5. Mendokumentasikan proses;
  6. Mengatur pengangkutan;
  7. Menyerahkan bantuan melalui mekanisme yang disepakati;
  8. Melaporkan jumlah bantuan yang terkumpul.

Dengan mekanisme tersebut, kegiatan tidak berhenti menjadi aksi simbolik.

Ada proses.

Ada pencatatan.

Ada dokumentasi.

Dan ada pertanggungjawaban.


Dari Masyarakat untuk Masyarakat

Bambu dapat dikumpulkan melalui berbagai cara.

Pengurus kecamatan dapat menggerakkan anggota.

Masyarakat dapat menyumbangkan bambu dari kebun atau sumber yang sah.

Pelaku usaha dapat membantu menyediakan material.

Pemerintah daerah dapat mendukung koordinasi dan fasilitas.

Perusahaan dapat berkontribusi melalui program CSR.

Komunitas dan relawan dapat membantu tenaga serta logistik.

Akademisi dan tenaga ahli dapat memberikan dukungan pengetahuan.

Media dapat membantu menyebarluaskan gerakan.

Dengan demikian, Gerakan Membangun Kembali Desa Adat Sade bukan milik satu organisasi.

Ini adalah ruang bersama untuk masyarakat NTB.


Berapa Biaya Membangun Kembali?

Pertanyaan berikutnya tentu adalah:

Berapa biaya yang dibutuhkan untuk membangun kembali rumah-rumah tersebut?

Sebagai simulasi awal, pembangunan rumah adat berukuran kecil secara tradisional dapat berada pada kisaran sekitar:

Rp15 juta – Rp30 juta per unit

Angka tersebut merupakan estimasi indikatif, bukan harga baku.

Biaya aktual akan bergantung pada ukuran rumah, jenis dan harga kayu, ketersediaan bambu, alang-alang, transportasi, tenaga kerja, kondisi lapangan, serta standar pembangunan yang nantinya ditetapkan bersama masyarakat dan pihak teknis.

Jika menggunakan angka simulasi Rp30 juta per rumah, maka untuk 129 rumah:

129 × Rp30 juta = Rp3,87 miliar

Angka Rp3,87 miliar tersebut merupakan simulasi kebutuhan dasar konstruksi, bukan angka resmi kebutuhan rekonstruksi keseluruhan.

Kebutuhan nyata dapat mencakup pula infrastruktur, fasilitas umum, utilitas, penataan kawasan, tempat tinggal sementara, pendampingan masyarakat, serta kebutuhan lainnya.

Karena itu, angka tersebut harus diperlakukan sebagai gambaran awal untuk memahami besarnya tantangan.


Yang Dibangun Bukan Hanya Rumah

Jika suatu hari rumah-rumah itu kembali berdiri, pekerjaan belum selesai.

Yang perlu dibangun kembali juga adalah:

rasa aman masyarakat.

kehidupan ekonomi keluarga.

ruang sosial masyarakat.

kepercayaan terhadap proses pemulihan.

Dan yang tidak kalah penting:

keberlanjutan budaya.

Sade harus kembali menjadi ruang kehidupan masyarakat, bukan hanya sebuah latar untuk foto wisatawan.


KASTA NTB: Gotong Royong Harus Transparan

KASTA NTB memiliki satu prinsip penting:

Kepedulian tidak boleh kehilangan akuntabilitas.

Semakin besar gerakan sosial, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan publik.

Karena itu, setiap bantuan yang masuk harus dapat ditelusuri.

Dari mana datangnya?

Berapa jumlahnya?

Siapa yang menyerahkan?

Kapan diterima?

Ke mana disalurkan?

Untuk kebutuhan apa?

Dan bagaimana penggunaannya?

Mekanisme transparansi yang dirancang dalam gerakan ini dapat meliputi:

Pencatatan → Verifikasi → Dokumentasi → Distribusi → Monitoring → Pelaporan Publik.

Jika dukungan diberikan dalam bentuk uang, maka penggunaannya harus dicatat dan dikaitkan dengan kebutuhan yang jelas.

Jika bantuan diberikan dalam bentuk bambu, jumlah dan asal bantuan juga harus didokumentasikan.

Jika bantuan berupa material lainnya, jenis, jumlah, dan penerimanya harus dicatat.

Dengan demikian, publik tidak hanya diminta untuk percaya.

Publik diberikan informasi untuk dapat ikut mengawasi.


Website Transparansi Gerakan

Sebagai bagian dari prinsip keterbukaan, data bantuan dapat dikembangkan ke dalam sistem informasi digital.

Masyarakat nantinya dapat melihat:

TOTAL BANTUAN

Jumlah bambu dan material yang terkumpul.

ASAL BANTUAN

Kecamatan, komunitas, perusahaan, maupun pihak lainnya.

STATUS PENGIRIMAN

Sudah dikumpulkan, dikirim, atau diterima.

PEMANFAATAN

Material yang telah disalurkan untuk kebutuhan rekonstruksi.

DOKUMENTASI

Foto dan video kegiatan.

LAPORAN

Rekapitulasi bantuan dan penggunaan.

Tujuannya bukan sekadar membuat laporan.

Tujuannya adalah membangun kepercayaan publik.


CSR: Dari Bantuan Menjadi Warisan

Gerakan ini juga membuka ruang kolaborasi dengan dunia usaha.

Perusahaan tidak harus selalu memberikan bantuan dalam bentuk uang.

Dukungan dapat berupa:

  • bambu;
  • kayu;
  • alang-alang;
  • transportasi;
  • logistik;
  • peralatan;
  • tenaga ahli;
  • dukungan pembangunan;
  • teknologi;
  • sistem informasi;
  • maupun pendanaan.

Dengan pendekatan tersebut, program CSR dapat diarahkan tidak hanya kepada bantuan jangka pendek, tetapi juga pada pemulihan sosial dan pelestarian budaya.

Sebuah perusahaan mungkin hanya memberikan material.

Tetapi material itu dapat menjadi bagian dari sebuah rumah.

Rumah itu menjadi bagian dari sebuah kampung.

Dan kampung itu menjadi bagian dari warisan budaya yang terus hidup.


Pengurus Kecamatan Adalah Titik Awal

Gerakan besar selalu dimulai dari titik-titik kecil.

Karena itu, KASTA NTB mengajak setiap Pengurus Kecamatan untuk menjadi titik awal gerakan.

Targetnya sederhana:

100 BAMBU.

Tidak perlu menunggu semuanya sempurna.

Tidak perlu menunggu semua orang mampu.

Mulai dari apa yang tersedia.

Mulai dari lingkungan terdekat.

Mulai dari anggota.

Mulai dari masyarakat.

Mulai dari hari ini.

Karena ketika satu kecamatan bergerak, kecamatan lain akan melihat.

Ketika sepuluh kecamatan bergerak, gerakan mulai terlihat.

Ketika puluhan kecamatan bergerak, masyarakat akan merasakan kekuatannya.


Jangan Biarkan Api Mengakhiri Cerita Sade

Kebakaran dapat menghancurkan kayu.

Api dapat membakar bambu.

Atap alang-alang dapat menjadi abu.

Tetapi kebakaran tidak boleh menjadi akhir dari cerita Sade.

Sebab budaya tidak hanya tinggal di dalam bangunan.

Budaya hidup dalam ingatan.

Dalam keterampilan.

Dalam gotong royong.

Dalam cara masyarakat membangun kembali.

Dan hari ini, masyarakat NTB memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa ketika satu bagian dari rumah budaya kita terluka, bagian NTB yang lain tidak tinggal diam.


SADE HARUS KEMBALI BERDIRI

Membangun kembali Sade membutuhkan pemerintah.

Membutuhkan masyarakat adat.

Membutuhkan dunia usaha.

Membutuhkan komunitas.

Membutuhkan akademisi.

Membutuhkan relawan.

Membutuhkan media.

Dan membutuhkan masyarakat luas.

KASTA NTB ingin mengambil bagian sebagai organisasi masyarakat sipil yang menggerakkan kepedulian, membuka ruang kolaborasi, mendorong pemberdayaan, serta mengawal transparansi dan akuntabilitas.

Karena pada akhirnya, gerakan ini bukan tentang siapa yang paling banyak memberikan.

Bukan tentang siapa yang paling terlihat.

Bukan tentang siapa yang paling dahulu datang.

Tetapi tentang bagaimana kita bersama-sama membantu masyarakat Sade bangkit.


MULAI DARI 100 BAMBU

Satu kecamatan.

Seratus bambu.

Sepuluh kecamatan.

Seribu bambu.

Puluhan kecamatan.

Ribuan bambu.

Dan dari ribuan bambu itu, kita berharap lahir kembali rumah-rumah yang menjadi tempat masyarakat Sasak menjalani kehidupan.

Satu bambu adalah bantuan.

Seratus bambu adalah gerakan.

Ribuan bambu adalah harapan.

SADE HARUS KEMBALI BERDIRI.

Kita mulai dari 100 bambu.

KASTA NUSA TENGGARA BARAT

Kajian • Advokasi • Transparansi • Pemberdayaan